my hero is you abahku :)

by - 11:14 PM

sabtu 20 maret 2011
lamanya gak nulis di blog padahal banyak yang pengen tercurahkan di otak ini, tapi akhirnya tercurahkan di buku diary gue. kesibukan nulis laporan dan buat makalah itulah sehari-hari gue yang ngebuat badan gue ini dibilang banyak orang tambah kurus (kesenengan dibilang kurus :D)

kali ini akan bercerita tentang abahku (bapak), mungkin menceritakan ini karena betapa kagumnya gue sama bapak dan mengidolakannya :)
abah begitu panggilan dari murid-muridnya, jadi aku sering kali memanggilnya abah tapi tetap untuk panggilan ayah dari kecil aku memanggilnya bapak. maunya ceritanya dari jaman yang sekarang atau dari jaman dulu? mungkin jaman dulu kali yaaa?

jaman dulu jaman dulu kala, sebelum aku terlahir dan sebelum ibuku dan abahku resmi menikah, abah terlahir di purwokerto pada tanggal 20 agustus tahun 1954. dari abah kecil, beliau di masa kecil anak yang cukup tangguh dan kuat. besar di keluarga yang pas-pasan dengan asuhan single parent. yaa sejak kecil kelas 6 sd kalo gak salah abah udah di tinggal mbah kakungku (ayahnya bapak) meninggal dunia. dari kecil abah emang udah dapet ilmu langsung dari mbah buyutku siapa lagi idolaku juga mbah malik, kadang aku suka iri kenapa aku tidak hidup dari jaman dulu? mencicipi ilmu yang sangat sangat sangat subhanallah. abah dari kecil selalu ikut mbah malik, mulai dari mengikutinya hijrah pesantren satu ke pesantren lainnya, walaupun abah selalu ditinggalkan mbah buyutku selama berminggu-minggu tapi beliau tetap senang. memang abah tidak pernah mencicip hidup di pondok pesantren seperti layaknya anak kyai lainnya tapi abah secara tidak langsung dari kecil sudah mendapatkan ilmu baik dari mbah buyut maupun dari kyai yang lain yang insyaAllah juga seorang 'Alim.

beliau selalu membantu ibunya dan neneknya, mungkin karena itu beliau menjadi anak kesayangan ibunya (mbah utiku), lagi-lagi ini yang membuatku iri, abah tidak pernah sekalipun dibentak bahkan melihat bibir tipis mbah utiku merengut saja tidak pernah. padahal mbah utiku kata abahku adalah ibu yang sangat cerewet, saudara-saudara bapakku menjadi santapan cerewetnya mbah utiku. abah juga tidak pernah mengeluarkan satu kata aaah, nanti, atau apalah yang membantah perkataan ibunya. lagi-lagi aku iri, aku selalu mencoba seperti itu tapi aku selalu gagal pasti ada segelintik kata membantah entah itu dengan kata apa. abah juga selalu mendapatkan makanan enak dari hidangan ibunya, tapi abah selalu mengalah beliau selalu membaginya untuk kakak-kakaknya atau adiknya. subhanallah, ini adalah satu dari beberapa kategori yang aku idolakan dari abah.

ada lagi suatu cerita dari abah. dulu karena hidup abahku pas-pasan, abahku juga tidak mau meminta uang untuk membeli sepeda, akhirnya abahku selalu menyisihkan uang sakunya untuk membeli sepeda. nah punya lah sepeda, ini sepeda satu-satunya yang di punya abah sama saudara-saudaranya. akhirnya sepeda abah ini sering kali di pake kakaknya sampe-sampe abah jarang make, karena kakaknya ini gak tau arti barang mahal make itu barang se-enaknya aja, na'as banget sepeda abahku ilang gitu aja. kasiaan yaaa..
beranjak dewasa abahpun merantau ke jakarta, dulu namanya PGA kayaknya, sederajat sama SMP, abah tinggal di rumah kakak perempuannya (budhe) dengan kemandiriannya, abah balik lagi ke purwokerto kelas PGA 4 sekarang itu MAN 2 purwokerto. mulai dari sini abah banyak berkontribusi menyalurkan hobinya yaitu bermusik dan melukis.

ada salah satu cerita lagi, suatu hari abah dan teman-temannya lagi ngumpul di depan rumah main gitar nyanyi-nyanyi keras, padahal mbah uti (ibu abah) lagi sakit parah di kamar, karena ke-asyikan nyanyi bareng sama temen-temennya mungkin abah lupa. akhirnya mbah malik nyamperin abah tanpa mengeluarkan satu patah dua kata, diambilnya gitar kesayangan bapakku dan di patahkan ampe ancur di depan abahku dan teman-teman abahku. kagetlah abah tapi abah tau kesalahannya dimana. besoknya abah minta maaf sama ibunya dan tentu mbah malik. tapi mbah uyut uti emang baik banget, setelah kejadian itu abah melakukan kegiatan sehari-harinya membantu mbah uyut uti di kebun, tiba-tiba mbah uyut memberikan uang yang lebih dari cukup untuk membeli gitar, mbah uyut uti memberikan uang itu dengan maksud untuk menggantikan gitar yang udah di hancurkan mbah malik.
ini dia yang ku idolakan, abah pintar bermusik, entah itu alat musik apa aja. dia begitu lihai juga memainkan gitar, tapi anehnya beliau tidak pernah mau mengajarkan ilmunya padaku, katanya beliau aja belajar sendiri kok aku gak bisa? kenyataannya dari jaman aku dibeliin gitar ampe sekarang gitarku cuman terpampang cantik di pojokan kamar, bantu aku bantu aku pengennya bisa maen gitaaaaar :(

ada lagi cerita, abah juga suka melukis. naaah abahpun nyoba melukis wajah orang akhirnya di pajang lah. tapi tiba-tiba mbah malik merobek semua lukisan abah bahkan di bakar seperti biasa tanpa mengeluarkan sepatah dua kata. tapi abah selalu mengerti kesalahannya, mulai dari situ abah memutuskan untuk menyalurkan hobi melukisnya dengan melukis kaligrafi dan pemandangan. tapi abah gak pernah ngebuang dan ngebakar hasil sketsa gue yang di pajang di kamar, abah selalu ngasih kebebasan ber-ekspresi, bahkan abah mendukung banget hobiku yaitu ngesketsa wajah.

singkat cerita akhirnya abah melanjutkan studinya kembali lagi ke jakarta, tadinya abah ijin mendaftar polisi tapi tanpa mengucapkan tutur kata iya atau tidak, mbah malik hanya terdiam. abah lagi-lagi mengerti, artinya beliau tidak mengijinkan abah. abahku merantau lagi ke jakarta, ikut budheku yang sudah punya anak banyak ini, abah juga selalu membantu budheku tidak pernah abah merepotkan ibuku.

akhirnya abahpun bertemu dengan ibuku yang baru saja lulus PGA (sederajat SMA), baru ta'aruf sekedar sering main ke rumah ibuku. abah selalu tampil adanya dengan gayanya yang tidak mencerminkan anak kyai tapi abahku tentu tau sopan santun dan akhlaq bersilaturahmi. abah berhasil mengambil hati ayahnya ibuku dan juga ibunya ibuku. dengan obrolannya yang mampu menyatu itu yang membuat kakek dan nenekku luluh. awalnya setelah resmi menikah ibu dan abahku tinggal dirumah kakek nenekku di kuningan jakarta, tapi abahku selalu rikuh soalnya abah selalu kalo mau nyapu atau ngapain aja di marahin terus sama nenekku, gak pernah di biarin abahku kerja bantu-bantu beres-beres rumah. pindahlah abah dan ibuku kerumah budheku di cimanggis, kali ini ibuku yang gak betah soalnya ibuku selalu tertekan batinnya, selalu nangis padahal ibuku selalu berusaha nyenengin budheku dengan melakukan sesuatu tentunya tapi tetep aja budhe selalu judes sama ibu, ibuku akhirnya ngotot untuk pindah dari situ, akhirnya ngontrak di daerah pengadegan dengan tanah sepetak, ngambil air masih nimba sumur, ibu juga masih jualan gorengan dan gado-gado.

perlahan demi perlahan ibu abahku yang selalu berkorban demi umat dengan ke-ikhlasannya nabung sereceh demi receh tiap hari mengumpulkan uang, alhamdulillah ibu dan abahku mampu bangun rumah walaupun sempit tidak seberapa tapi rumah yang menjadi tempat singgah abah ibuku dan keluargaku ini menjadi napak tilas perjuangan ibu dan abahku.
dengan satu visi dan misi abah dan ibuku membangun perlahan juga membangun sekolah TK dan TPA yang tadinya hanya di sebuah kontrakan kecil 2 rumah kecil akhirnya saat ini sudah terbangun gedung yang gagah, subhanallah terkadang aku lalai mensyukuri semua yang sudah aku dapat ini, semua perjuangan abah dan ibuku. itulah jaman dulu, jaman dimana abahku sebelum bertemu ibuku, jaman dimana abah dan ibuku masih merangkak, jaman dimana ibu dan abahku masih bersama berjuang demi menyebarkan dakwah pendidikan.

jaman sekarang

hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu, bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun berlalu, semua dilalui abah dan ibuku sudah 26 tahun pernikahan. cukup lama bersama, tapi abahku terlihat masih setia menyayangi ibuku dengan segala kekurangannya, ibukupun seperti itu masih sabar menyayangi abahku. tapi mulai tahun 2004, terpaksa abah dan ibuku terpisah oleh jarak demi berjuang lagi. berjuang untuk umat, yaa itu adalah slogan untuk abah dan ibuku. selain berjuang untuk keluarga abah dan ibuku berjuang untuk umat juga. tahun 2004, pakdheku kakaknya abahku meninggal dunia, terpaksa abahku harus menggantikan posisi pakdheku di kedung paruk untuk memimpin para murid mbah maupun pakdehku. abah sudah menolaknya, karena masih ada yang bisa singgah disana tapi apa boleh buat habib lutfi yang memerintah, itupun juga pasti amanah dari simbah malik.

abahku pun hijrah lagi kembali ke daerah tempat asalnya, menggantikan singgah sana sebagai kyai atau mursyid thariqat di kedung paruk.
abahku selalu sabar dan tegar, bayangkan di sana beliau tanpa seorang istri yang mengayomi tiap hari, menyediakan kopi tiap hari, menemani makan pagi siang sore tiap hari, menemani tidurnya di malam yang dingin tiap hari, bayangkan gimana rasanya? aku yang masih pacaran seperti ini tapi rasa kasih sayang yang udah cukup membesar seperti ini aja rasanya sakit dan menahan berjuta rindu. bagaimana perasaan abahku? itulah hebatnya abahku, berjuang melakoni amanah simbah, melakoni amanah dari Allah, melakoni berjuang untuk umat-umatnya. walaupun begitu abah tak pernah melupakan anak-anaknya, beliau selalu mendidik anaknya walaupun sekedar lewat sms dengan kalimat-kalimat nasihat dan semangatnya. abahku juga selalu sabar menghadapi masalah, tidak pernah terpancing emosi dengan segala ecohan dari orang-orang yang selalu mencoba menghardik abahku. abahku juga selalu tersenyum bahkan gembira jika berada di depan murid-muridnya beliau tidak pernah memperlihatkan wajah letihnya. padahal aku paham beliau begitu letih menjalani hidupnya dengan kesendiriannya tanpa anak-anaknya dan istri yang menemaninya.


sedih cukup sedih dan miris, sesekali aku menangis ingin sekali berkumpul bersama lagi di satu atap rumah, tapi aku harus masih mencari ilmu, aku harus masih mengejar beberapa cita-citaku, ibuku juga harus masih mencari sesuap makan nasi untuk hidup anak-anaknya dan hidup murid-murid abahku di purwokerto. banting tulang sana sini berjuang untuk keluarga dan umat. tapi aku masih bersyukur keluargaku terutama ibu dan abahku menebarkan kasih sayang yang luar biasa, semangat yang luar biasa, perjuangan yang luar biasa, aku masih beruntung.

aku pernah 3 tahun hidup bersama abah di purwokerto. mengurusnya pagi siang sore bahkan malam, menemaninya makan karna abah kalo gak ada yg nemenin makan abah tidak nafsu makan, membuatkan kopi pagi dan sore menyiapkan air putih di mejanya, mengingatkannya minum obat. 3 tahun bersama abah, aku tidak pernah dibentak atau melihat abahku marah-marah hanya sekali abahku menggertak ketika aku berantem dengan adikku, dan sekali aku melihat abahku membanting tape radio karna waktu itu abangku nyetel radio magrib-magrib. abah selalu diam jika marah, menahan amarahnya sampai jantungnya kesakitan.
beliau sangat sabar dan tegar menjalani hidupnya menjalankan pekerjaannya yaitu amanah besarnya berada di kedung paruk (purwokerto).

beliau terlihat keriput dan kurus tapi masih selalu tersenyum indah memperlihatkan cerah wajahnya dan hatinya. beliau masih membimbing kami anak-anaknya dan murid-muridnya, bahkan selalu membimbing sampai akhir hayatnya.
kadang aku berfikir,

'' ya Allah jika engkau merestui hamba ijinkanlah hamba meminta ijin pada simbah untuk membawa pulang abah ke jakarta, singgah kembal di jakarta bersama anak-anak dan istrinya, ijinkan abah menikmati di umur senjanya bersama kami'' tapi rasanya tidak mungkin, karna mau tidak mau abah adalah cucu dari simbah tentunya wajib meneruskan perjuangan simbah wajib menjalankan amanah simbah, bagaimanapun itu.
mudah-mudahan abah selalu diberi kesabaran dan keikhlasan hatinya untuk menjalankan amanahnya disana, membimbing kami anak-anaknya dan murid-muridnya. amiiin ya Rabb :)




ini ibu dan abah waktu nikahan


abah dan ibuku, love youuu :*

You May Also Like

0 comment

Terimakasih sudah bersedia membaca, silahkan isi pesan dan kesan atau kritik di kolom komentar dibawah ini

INSTAGRAM