NU atau MD?

by - 6:02 PM

~~Assalamualaikum

~~kali ini aku mengerti (?)


mengerti apa ya?


tadi malem gue masih galau segalau mentri agama dan anggota sidang isbat lainnya di jakarta. hem galau? ngapain coba galau ya kan tinggal nunggu hasil.

gue galau karena gue kurang faham tepatnya belum paham kenapa ada perbedaan lebaran? khususnya kenapa MEKKAH dan SEKITARNYA lebaran duluan dari kita padahal kan jamnya beda 4 jam dari kita, logikanya kalau perbedaan 4 jam itu dari mekkah otomatis kita duluan kan harusnya lebarannya. nah loooh gimana?

gue sempet galau, aduh besok lebarannya apa lusa ya? padahal sebagai anak yang berbakti gue harus mau tidak mau mengikuti bapak gue yang jadi imam solat ied besok, yaah mau tidak mau dengan berat hati waktu galau gue memutuskan ikut bapak yang lebaran besok.


naah malemnya gue langsung online, awalnya gue cuman blogwalking liat tutorial-turorial hijab di berbagai blog, eh nyasar tuh gue searching google nemuin blog beliau http://mantankyainu.blogspot.com


nah disitu dijelasin semuanyaaa, coba deh di klik buat kalian yang mau tau kelurusannya yang tidak lurus, atau buat kalian yang masih ragu di keyakinan kalian.


berhubung searching di googlenya dengan kosa kata seperti ini ''kenapa mekkah lebaran duluan?'' akhirnya ketemu di blog tersebut dengan penjelasan rinci yaah alhamdulillah yah sesuatu akhirnya gue mengerti dan faham.



berikut adalah penjelasan beliau di blognya









"Saya ikut lebaran hari ini saja ah soalnya Mekah juga lebaran hari ini!" demikian beberapa orang memberikan alasan "syar'i" mengenai keputusan berhari raya (penentuan tanggal 1 Syawal). Tak kurang seorang Master jebolan IAIN ada juga yang mengatakan demikian. Tetapi sangat mengejutkan ketika seorang anak SD nyeletuk,"Emangnya kita ini hidup di Mekah atau di Indonesia?,.....Kan antara kota Jakarta dan Riyadh itu beda 4 jam?.... bukankah dalam waktu 4 jam itu bulan sudah bergerak naik dari ufuk setinggi 2,0833 derajat? Mungkin di Jakarta bulan tidak terlihat, tapi 4 jam kemudian di Riyadh sudah bisa terlihat," Wah, wah,....diajarin anak SD pula kita nih? Jadi Kenapa Mekah Lebih Duluan Hari Raya Idul Fitri? Berikut ini penjelasannya
Misalkan waktu diamati di Jakarta posisi bulan tepat di cakrawala atau nol derajat, maka 4 jam kemudian ketika diamati dari Riyadh, bulan tersebut sudah bergerak naik dari ufuk setinggi 2,0833 derajat. view the following picture



Gambar pertama:
Asumsikan pengamatan bulan di Jakarta (J) pada tanggal 29 (hari Senin sore)

Posisi bulan segaris dengan posisi matahari tenggelam (sudut 0 derajat), maka pada hari berikutnya (Selasa sore) tanggal 30, bulan terlambat 50 menit dibanding matahari. Artinya matahari sudah tenggelam di garis horison, sedangkan bulan masih di atas horison dengan ketinggian 50 menit.
Kalau dihitung derajat sama dengan 50/60 X 15 = 12,5 derajat
Hari berikutnya bertambah 12,5 lagi menjadi 25 derajat, kemudian 37,5 derajat dan seterusnya sampai kembali lagi segaris dengan posisi matahari

(jika dalam sehari 24 jam, bulan tertinggal dari matahari sejauh 12,5 derajat maka dalam 4 jam (selisih waktu jakarta riyadh) bulan tertinggal sejauh (12,5 X 4/24) atau sama dengan (12,5 dibagi 6) hasilnya adalah 2,0833.

Jadi dalam 4 jam bulan tertinggal dari matahari sejauh 2,0833 derajat sebagaimana terlihat dalam gambar kedua berikut ini:




Gambar kedua adalah pengamatan di Jakarta pada tanggal 29 Senin sore jam 18.00 WIB.
Posisi bulan segaris dengan posisi matahari (Riyadh masih siang jam 14.00 waktu Riyadh)

Empat Jam Kemudian Riyadh baru dapat melakukan Rukyat. Dalam selang waktu 4 jam tersebut bulan sudah tertinggal dari matahari sejauh 2,0833 derajat sebagaimana gambar berikut:



Gambar ketiga adalah pengamatan di Riyadh 4 jam kemudian setelah pengamatan di Jakarta (Riyadh jam 18.00 dan Jakarta sudah malam jam 22.00) pada saat pengamatan di Riyadh ini posisi bulan tidak lagi segaris dengan matahari tetapi tertinggal (di sebelah atas) dari matahari yang sedang terbenam di garis horison. Ketinggian bulan dari horison adalah sebesar 2,0833 derajat.

Dalam Ilustrasi diatas, Ahli Rukyat di Jakarta tidak melihat hilal sedangkan ahli rukyat di Riyadh sudah bisa melihat karena tinggi bulan dari horison sudah lebih dari 2 derajat. Dengan demikian umat di Arab Saudi Selasa sudah Hari Raya, sedangkan Muslim di Jakarta berhari raya pada hari Rabu

Biasanya ada usul ”cerdas” bagaimana kalau batasan tinggi bulan dari horisonnya diperbesar misalnya sampai 5 atau 6 derajat? Dengan begitu selisih 2 derajat tidak membuat Riyadh jadi berbeda dari Jakarta. Benarkah?

Tidak demikian. Berapapun angka derajat yang disepakati hasilnya akan begitu juga. Misalnya disepakati 5 derajat. (artinya kalau tinggi bulan belum 5 derajat maka esok masih bulan lama). Jika kasus yang terjadi dilapangan persis seperti asumsi dalam ketiga gambar di atas memang Riyadh dan Jakarta jadi sama karena tinggi bulan pada pengamatan di Riyadh hanya 2 derajat (tidak sampai lima).

Persoalan jadi beda kalau pada pengamatan di Jakarta tinggi bulan mencapai 4 derajat maka ketika diamati di Riyadh bulan sudah naik lagi menjadi 4+2 = 6 derajat. Artinya Jakarta masih bulan lama, Riyadh sudah bulan baru.
Sumber : http://wiseislam.blogspot.com/2010/11/kenapa-mekah-lebih-duluan-hari-raya.html




Komentarku ( Mahrus ali )
Kita tidak diperintahkan untuk mengikuti rukyat Mekkah , Mexiko , Roma atau Amirika . Kita tidak ikut Mekkah dalam menentukan awal bulan Ramdahan atau awal bulan Syawal . Kita sudah malam dan orang – orang di mekkah masih dalam keadaan sore atau siang . Di bidang sahur dan bukanya beda , sudah tentu awal bulan syawalnya beda. Dalam al quran di jelaskan :
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ)
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; 189 Al baqarah

Lihat al Quran, jangan lihat kitab Injil atau fikih dlm menentukan bulan haji atau di mulainya bulan haji atau di akhiri bulan sebelumnya juga menggunakan hilal bukan hisab.
Allah juga berfirman tentang bulan di akhir bulan sbb:
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ(39)
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Yasin 39
ٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهممَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَضَرَبَ بِيَدَيْهِ فَقَالَ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ
Ibnu Umar ra berkata : Sesungguhnya Rasulullah menyebut bulan Ramadhan , lalu mencontohkan dengan kedua tangannya begini , begini dan begini . Kemudian ketiga kalinya beliau melengkungkan ibu jarinya ( 29 hari ) . Beliau bersabda :Berpuasalah karena melihat bulan tanggal satu ( Ramadhan ) dan berbukalah karena melihat bulan tanggal satu ( Syawal ) . Bila ada awan di atasmu , tentukan tiga puluh hari . [1]
Al Qurthubi berkata :
وَفُرِضَ عَلَيْنَا عِنْدَ غُمَّةِ اْلهِلاَلِ إِكْمَالُ عِدَّةِ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا وَإِكْمَالُ عِدَّةِ رَمَضَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا حَتَّى نَدْخُلَ فِي اْلعِبَادَةِ بِيَقِيْنٍ وَنَخْرُجَ عَنْهَا بِيَقِيْنٍ
Kita di wajibkan ketika awan menghalangi bulan sabit untuk menyempurnakan tiga puluh hari bulan sya`ban dan menyempurnakan tiga puluh hari bulan Ramadhan sehingga kita menjalankan ibadah dengan yakin dan kita keluar dari Ramadhan juga dengan yakin . [2]Pendapat ini didukung Imam Malik , Abu Hanifah , Imam Syafii , mayoritas ulama` salaf dan kholaf kata Imam Nawawi [3]

Boleh jadi ketika di Surabaya kita lihat bulan sabit dalam keadaan tertutup awan bukan terbuka lalu tidak tampak tapi sembunyi di balik awan , lalu kita genapkan bulan tiga puluh hari dan tidak boleh langsung berhari raya dengan hisap , dan ketika di Mekkah bulan sabit di lihat dalam keadaan terang tanpa awan yang menghalangi penglihatan lalu bulan sabit bisa di lihat dengan mata biasa . Dan penduduk Mekkah telah mulai hari raya dan kita masih berpuasa di hari berikutnya . Bila kita berhari raya dengan bulan yang tidak tampak untuk mengikuti Mekkah atau lainnya , maka hadis tadi harus di buang dulu. Ini bukan hal yang ganjil lagi – tapi biasa.


Read more: http://mantankyainu.blogspot.com/2011/08/kenapa-mekah-lebih-duluan-hari-raya.html#ixzz1WSa1OEtS




nah lanjut pas saur gue berdiskusi sama bapak dan ibu gue, dengan api membara. dan alhamduillah gue semakin mengerti faham juga. semua itu berdasarkan keyakinan dasarnya masing-masing. jadi ya monggo toh mau lebaran kapan aja asal punya dasar dan syar'i.


kata ibu ''ibu bukan NU bukan MD, tapi ibu ikut keyakinan ibu, ibu yakin sama pemerintah yawis ikut pemerintah''

kata bapak ''bapak disini tanggung jawabnya besar, dipandang jadi satu panutan, jadi disini bapak harus mengambil suatu keputusan''


dan disela pembicaraan gue bertanya-tanyaaa terus, salah satunya yg buat gue penasaran ini

''pak kalo naqsabandiyah kaya bapak gitu kok sering duluan lebarannya? kenapa pak? kok bisa?''

kemudian bapak gue menjawab ''dulu mbah juga selalu mendahulukan, karena punya metode hisab sendiri, waah itu udah tingkat atas, puasanya pun duluan, bulannya pun gak ada 29, semua genap 30. puasanya pun selalu 30, karena selalu digenapkan, cuma mulai bapak ini yg gak pernah ngedahuluin soalnya ikut pemerintah terus''

dan disitu gue baru tau, naqsabandiyah punya kalender sendiri ternyata. beda sama kalender pemerintah ada tanggalnya 31, 28, dan 29. ternyata naqsabandiyah digenapkan 30 hari. kalo udah tingkat thariqah gitu ane nyerah.


bapak gue gak ngaku bahwa dirinya NU, bahkan pesantren yang dipimpinnya NU, selalu bilang thariqah bukan NU, padahal thariqah identik dengan NU, tapi bapak gak pernah mau dinyatakan dirinya NU. gitu juga sama ibu. NU atau MD itu adalah sebagian ORMAS diantara banyaknya ormas kan? jadi bukan agama kan? agama itu cuma satu ISLAM, iya kan? so? kenapa harus ada NU dan MD? atau ormas lainnya al irsyad, persis, LDII, dan ormas kecil lainnya. tapi selalu yang dipandang NU dan MD?


gak bisa idul fitri disamain sama natal, kenapa? pausnya cuma satu, pusatnya juga cuma satu. lah kalo islam? tidak bisa. madzhab di masing negara aja belum tentu sama, pandangan-pandangan dari segi fiqhnya misalnya belum tentu seragam kan?


jadi jangan bingung ya, dan jangan bimbang yaa. kita semua telah meraih kemenangan walaupun ada perbedaan yang tidak indah menurut gue. coba muhammadiyah ngalah lebarannya bareng-bareng, kalo mereka mau 29 hari yawis hari ke 30nya mereka gak usah puasa terus lebarannya ikut pemerintah, selesai bukan? bersama itu indah



selesai sudah sesi berbagi pengalamannya, dan curcol dikit yaa, geregetan banget soalnya.




minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin :)
maaf jika terluka, segala kesalahan, kekhilafan, dan kenaifan, mudah mudahan hati kita ikhlas untuk saling memaafkan.


~~wassalam
~~haooy ied 1432 H


You May Also Like

5 comment

  1. maaf lahir bathin ya Atti..

    "Faith makes all things possible.
    Hope makes all things work.
    Love makes all things beautiful.
    May you have all of the three.
    Happy Iedul Fitri 1432 H"

    uhanniukum bi'idil fithri al-mubarak..

    ReplyDelete
  2. sama sama mbak firda :) maaf lahir batin jugaa..
    na'am na'an ana faham :D hahahaha

    ReplyDelete
  3. saling menghormati dalam perbedaan itu lebih indah. wallahu ta'ala a'lam

    ReplyDelete
  4. hey jeung syahrani,, mohon maav lahir bathin ya^^
    ayo dong update2 lagi :D

    ReplyDelete
  5. @ustad : wah perbedaan masalah lebaran buat aku gak indah ustad :D hehe

    @neng geuilis : sama-sama maaf lahir batin juga yaa :) iya nih lama gak update sibuk ngurusin tamunya hihi

    ReplyDelete

Terimakasih sudah bersedia membaca, silahkan isi pesan dan kesan atau kritik di kolom komentar dibawah ini

INSTAGRAM