the last

by - 9:03 AM

ketika egois hidup dalam hati seseorang, maka hati seseorang tersebut adalah belati bagi orang yang sangat mencintainya.


tercabik-cabik, kecewa, maunya memaki, tapi apa untungnya? dan apa hakku sebagai seseorang yang bukan siapa-siapa?

setidaknya aku pernah belajar melakukan hal seperti yang sekarang dilakukan seperti 6 tahun lalu. bedanya aku ditinggalkan oleh dua alasan yang berbeda. bedanya jauh tapi yang sekarang dilakukan adalah sikap yang sama. rasanya itu.. 

pernah ga sih terfikir ketika kita memilih suatu jalan untuk menjalin hubungan, memilih untuk mecintai, memilih untuk ini terakhir, tapi jalan yang kita pilih adalah keraguan. keraguan "yakin kamu? yakin ga kejadian kaya yang dulu? yakin bener?" 

yang sebenernya adalah cinta itu bersahabat sama keraguan.

toh akhirnya keraguan tinggal keraguan kita tetep bisa mencintai, walaupun selalu ada keraguan di dalamnya tapi kita selalu percaya, membohongi diri sendiri tepatnya.

apes, emang apes. nyesel, iya emang nyesel.

kalau begini caranya, lebih baik kan dulu... selalu begitu. 

pada akhirnya orang yang paling kita cintai, kita banggakan, kita sabarkan, kita perjuangkan, kita...... memilih untuk tidak memilih kita untuk dibahagiakannya.

pada akhirnya kita adalah bukan tujuannya, melainkan ego adalah tujuannya.

pada akhirnya kita, kamu, aku, harus menyelesaikan perasaan besar ini. perlahan harapan demi harapan dilunturkan, perlahan perasaan dilupakan.

apapun pilihannya, apapun tujuannya, semoga bahagialah yang ia capai. hanya bisa berdoa agar hati ini bisa lembut selembutnya, agar tidak memendam kekecewaan menjadi benci. 

pesan bagi siapapun : ketika memutuskan mencintai seseorang, berani berjanji akan kehidupan selanjutnya, maka selesaikanlah terlebih dahulu ego kalian masing-masing sebelum berjanji lebih jauh sebelum menyakiti.

You May Also Like

0 comment

Terimakasih sudah bersedia membaca, silahkan isi pesan dan kesan atau kritik di kolom komentar dibawah ini

INSTAGRAM