Tidak Mudik Tidak Piknik Saat Lebaran 2020 Untuk Selamatkan Keluarga

By Farhati Mardhiyah - 11:57 PM

Baca Juga

Tidak Mudik Tidak Piknik Lebaran 2020, itulah keputusan terberatku, selain memutuskan untuk tunda akad nikah saat pandemi COVID-19 , aku juga harus merelakan lebaran 2020 di rumah aja.

Sedih memang, tapi dengan tetap di rumah aja, kita bisa selamatkan Keluarga di kampung.

Tidak Mudik, Tidak Piknik, Lebaran 2020, Pandemi covid-19, virus corona, Social Distancing, Physical distancing

Penyebaran Virus Corona di berbagai belahan Dunia memang sangat masif dan begitu cepat, tidak cuma Indonesia mengalami kewalahan, seluruh Negara yang mengalaminya juga merasakan hal yang sama.

Sedihnya, Pandemi COVID-19 ini hadir ditengah-tengah kita saat menjelang Bulan Ramadhan dan Libur Hari Raya Idul Fitri 2020. Banyak hajat resepsi pernikahan ditunda, sampai akhirnya kitapun harus merelakan tidak melaksanakan Sholat Tarawih berjamaah dan Sholat Idul Fitri.

Kerinduan hangatnya kumpul keluarga saat pulang kampung ketika lebaran, kali ini kita harus menahan kerinduan lebih lama sejenak. 

Kita harus gotong royong melawan Virus Corona untuk menyelematkan Keluarga dengan cara menjaga jarak atau Physical Distancing yang sebelumnya diberikan nama Social Distancing.

Mengapa Harus Physical Distancing?


Virus Corona merupakan jenis virus yang baru ditemukan dan dapat menular antara manusia ke manusia. Virus ini akan hidup ketika berhasil mencari sel inang yang ada di tubuh manusia, mirip dengan virus yang menyebabkan Flu.

Tidak Mudik, Tidak Piknik, Lebaran 2020, Pandemi covid-19, virus corona, Social Distancing, Physical distancing


Virus Corona menjadi sangat berbahaya, selain karena belum ada obat dan vaksinnya, penularannya sangat mudah, melalui droplet atau butiran yang keluar dari mulut manusia ketika batuk maupun bersin.

Droplet itu bisa menempel pada permukaan benda mati, dari beberapa penelitian menyampaikan, virus corona bisa bertahan hidup jika menempel di benda mati selama 2 jam sampai 5 hari.

Tidak heran kan, kenapa Pemerintah selalu menganjurkan untuk tetap di rumah aja dan lakukan physical distancing atau pembatasan interaksi dengan manusia, ketika harus keluar rumah, minimal berjarak 1,5 meter.

Artinya, virus corona dapat dicegah melalui mengurangi kontak fisik dengan manusia sejenak saja, sampai pandemi ini benar-benar berakhir dan pergi dari kita semua. 

Orang yang tertular Virus Corona bisa menunjukkan tanpa gejala, kita bisa merasakan sehat tanpa mengalami gejala demam, flu, batuk yang mudah dikenali ketika terinfeksi virus.

Orang yang menunjukkan tanpa gejala bisa dialami oleh diri kita sendiri dan membawa virus ini berkelana, lalu bisa menularkan orang lain yang memiliki imunitas lemah ataupun orang tua diatas 60 tahun yang rentan mudah terinfeksi.

Kalian tega?.

4 Risiko Jika Tidak Mudik Tidak Piknik


Seperti yang kita ketahui, rata-rata masyarakat yang melakukan rutinitas mudik saat lebaran berasal dari Jabodetabek. Pada saat kondisi pandemi COVID-19, Jabodetabek merupakan zona merah dengan jumlah kasus positif COVID-19 sangat tinggi.

Kalau kalian sudah update berita mengenai Virus Corona di Indonesia, banyak sekali musibah daerah lain yang telah tertular virus ini, disebabkan oleh orang yang berasal dari zona merah. 

Contohnya, seperti yang disampaikan Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, berita viral mengenai orang tua yang mengalami sakit stroke akhirnya positif COVID-19, setelah dikunjungi anaknya yang berasal dari Jakarta.

Padahal anaknya sehat-sehat saja, tapi karena kondisi orang tua-nya lemah, virus ini mudah sekali menginfeksi tubuh orang tua tersebut. Kiranya, gambaran salah satu musibah itu bisa menjadi pelajaran untuk kita semua.



Menurut WHO, 8 dari 10 orang yang terinfeksi COVID-19 tidak merasakan gejala awal. Maka itu, walaupun China sudah menghentikan lockdown, saat ini malah ditemukan banyaknya kasus warganya terinfeksi tanpa menunjukkan gejala. 

Bagaimana di Indonesia?. Kembali lagi, seperti yang disampaikan Ridwan Kamil, kasus COVID-19 di Indonesia sebenarnya berlapis dan banyak, salah satu upaya paling efektif untuk menekan semakin besarnya pandemi ini adalah dengan tidak mudik, tidak piknik saat libur lebaran tahun ini.

Kalau memaksakan nekad mudik,  4 risiko ini bisa merugikan kita dan keluarga di kampung.

Tertular Saat di Perjalanan


Ketika melakukan perjalanan, bisa saja kita mengalami kontak fisik secara langsung maupun tidak langsung. Virus Corona ini punya ukuran yang sangat kecil dan tidak terlihat, bisa menempel dan bertahan lama di benda mati.

Saat kamu baik-baik saja, sehat bugar tanpa membawa virus ini, sangat rentan akhirnya malah terinfeksi ketika melakukan perjalanan. 


Menularkan COVID-19 pada Keluarga di Kampung


Rata-rata pemudik merupakan usia millenial dari Kota Besar, seperti Jakarta, Surabaya, Solo, Yogjakarta, menuju Kota kecil dan pelosok di seluruh Indonesia.

Pemudik berniat pulang kampung, untuk mengunjungi keluarga, terutama orang tua yang memiliki usia di atas 60 tahun.

Usia millenial memiliki sistem imunitas lebih baik, potensi sebagai carrier membawa virus corona ke kampung bisa saja menularkan orang lain yang lebih rentan.



Menurut WHO, angka kematian akibat COVID-19 ditemukan paling banyak terjadi pada orang tua berusia diatas 80 tahun, dengan presentase diatas 22%.

Sistem imunitas yang lemah, memiliki penyakit kronis, risiko serangan jantung, menjadi penyebab virus corona sangat mudah menyerang orang tua.

Apa kalian tega?. Saat ini yang paling penting adalah kita menjaga keselamatan keluarga terlebih dahulu, dengan tidak mudik pandemi COVID-19 pasti akan segera selesai.

Berstatus ODP dengan Karantina Berkepanjangan


Orang Dalam Pemantauan (ODP) statusnya sama saja seperti PDP harus melakukan karantina atau isolasi mandiri di rumah selama 14 hari.

Pemudik yang berasal dari wilayah zona merah sangat berbahaya membawa virus corona dan bisa saja menunjukkan tanpa gejala. Kalau nekad mudik, lalu balik lagi ke kota, statusnya akan kembali lagi menjadi ODP.

Lelah gak sih, harus isolasi mandiri 14 hari plus-plus?. Iya kalau beruntung virus ini tidak menginfeksi tubuh kita sepanjang perjalanan yang akan dilalui, kalau tubuh lagi lemah?.

Fasilitas Kesehatan Tidak Memadai


Wilayah tujuan mudik biasanya berlokasi di Desa yang lebih plosok, aksesnya terbatas, tentunya fasilitas kesehatan belum tentu memadai.

Bahkan bisa saja kita harus melakukan rujuk ke Kota besar, misal tujuan mudik kamu ke Pati, otomatis harus melakukan rujuk ke Rumah Sakit Rujukan Untuk Kasus COVID-19 di Kota Semarang.

Belum lagi masalah Pandemi COVID-19 di wilayah masing-masing akan menjadi lebih beban ketika ODP maupun PDP meningkat. Fasilitas kesehatan belum memadai, terbatas juga tenaga kesehatan, Pemerintah Kota akan semakin kewalahan menangani pandemi ini.

Bukannya kamu bahagia, malah bisa bikin diri sendiri sengsara, dan menambah beban orang banyak yang sedang bekerja melawan virus corona.

Lebaran 2020 Bisa Menjadi Bencana Kemanusiaan


Kalau kita menengok data jumlah pemudik menjelang Idul Ftiri tahun lalu, angkanya bisa mencapai 8,02 juta orang. Pemudik ini melakukan perjalanan dari Jakarta ke daerah asalnya di Jawa atau Sumatera.

Tingginya angka pemudik ini bisa menyebabkan bencana kemanusiaan, mengingat 1 orang yang terinfeksi virus corona bisa menularkan 4 orang lainnya, bayangkan akan seperti apa kewalahan yang harus ditanggung oleh masing-masing daerah di Jawa maupun Sumatera.



Seperti yang sudah terjadi, akibat adanya perkumpulan yang melibatkan banyak orang, Pandemi COVID-19 menyebar ke beberapa wilayah Indonesia.

4 Kluster pusat penyebaran virus yang ditemukan di Jawa Barat misalnya, acara Seminar dan perkumpulan Organisasi menyebabkan 2 orang positif di Solo, Samarinda, Balikpapan, Kalimantan Timur, Batam dan Lampung.

Salah satu pasien positif di Solo itu akhirnya juga menyebabkan daerah kampungku, Purwokerto  akhirnya terjangkit virus. Dari riwayat perjalanan, pasien tersebut ternyata telah melakukan perjalanan ke Solo.

Cepat kan menyebarnya?. Tidak bisa dibayangkan, kalau himbauan tidak mudik, tidak piknik ini kita hiraukan, berapa nyawa lagi yang akan menjadi korban?.

Manfaatkan Teknologi Untuk Ajang Silaturahmi


Aku yakin banget, sebelum ada pandemi COVID-19, kita sudah terbiasa dengan aktivitas sapa-menyapa melalui aplikasi chat messenger ataupun video call.

Rasanya memang akan jauh berbeda, lebaran tahun ini mungkin tidak ada santap opor ayam dan lontong sayur.



Tapi, menyelamatkan 38.7 juta jiwa, rasanya jauh lebih penting saat ini, daripada memaksakan mudik hanya untuk melepas kerinduan. Sebentar saja kita menjaga jarak ini untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Keluarga di kampung jauh lebih aman, kalau kita tetap berada di rumah aja, tidak mudik dan tidak piknik. Kerinduan dan kasih sayang lebaran tahun ini kita tuntaskan dengan virtual ya, bisa kirimkan hadiah lewat transfer m-banking misalnya, kan bisa jadi tabungan juga.

Kalau lebaran ini kita bisa kompak menjaga jarak dulu, kita bisa manfaatkan lebaran Idul Adha loh, dan momen libur lainnya, Pemerintah kabarnya akan memberikan libur panjang pengganti Lebaran Idul Fitri ini.



Yuk, kita tabung dulu uangnya untuk libur panjang selanjutnya, terutama menabung kesehatan Keluarga besar di kampung, kesehatan kamu, kesehatan warga Indonesia, supaya kondisinya segera pulih, dan kita bisa berbahagia menikmati hidup lagi!. Ah, tidak sabar!.

Sumber :
katadata.co.id


Gambar :

Desain oleh @kamadig_nusantara

  • Share:

You Might Also Like

1 comment

  1. Bakal jadi lebaran paling menyedihkan kayanya tahun ini.. dan aku pun terdampar di tengah sumatera nggak bisa mudik :(

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete

Terima Kasih sudah membaca sampai selesai-
Mari berkenalan dan saling berbagi, silahkan isi di kolom komentar