Generasi Millenial Harus Cerdas Cerna Hoax

By Farhati Mardhiyah - 11:13 PM

Baca Juga

Era digital saat ini sebenarnya sangat memudahkan kita untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya, namun saking mudahnya, saat ini setiap orang begitu mudah melakukan share baik berupa gambar dan tulisan, terkadang kita menjumpai informasi yang kebenarannya sangat meragukan.

Apalagi beberapa bulan kemarin dihadapi dengan masa Pemilu 2019, banyak sekali isu-isu saling menjatuhkan sama lain, bahkan beberapa wilayah terjadi pertikaian karena dipicu oleh postingan di sosial media, begitu mengerikan bukan?.

Berita, tulisan maupun meme gambar yang sebenarnya berisi hoax bisa menyebabkan terjadinya post truth, apa yang diterima akhirnya dinilai benar, penyebabnya apa sih?. 

Penyebabnya "Malas Membaca dan Mencari Informasi Pendukung", artinya tingkat literasi sangat rendah. Indonesia sendiri, peringkat literasi dunia berada di rangking 61 dari 62 Negara, hanya mengalahkan 1 Negara!. Malu kan?.

Prihatin dengan keadaan Indonesia, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (BiMas) Islam menyelenggarakan pelatihan literasi informasi bagi generasi Millenial pada tanggal 24 sampai 26 Juni 2019 di Hotel Aston Kartika, Jakarta.

"Jangan sampai anak muda Indonesia terjebak dengan hoax, ujaran kebencian, radikalisme, pornografi, dan menebarkan paham keagamaan menyimpang atau bermasalah" Mohammad Amin, Dirjen Bimas Islam

Kegiatan pelatihan ini tujuannya untuk meningkatkan nalar dan daya kritis generasi muda dalam menerima dan menyebarkan informasi di era distuptif saat ini. Pelatihan literasi ini melibatkan juga media online islami, blogger dan Ogranisator Keagamaan.

Mohammad Amin, Dirjen Bimas Kementerian Agama, membuka pelatihan literasi bagi generasi millenial

Isu Agama yang sangat Sensitif Digilir Menjadi Hoax

Konten yang membahas tentang agama cukup ramai belakangan ini, apalagi terkait dengan pemerintah yang ujungnya menyinggung kecondongan politik salah satu individu. Konteks agama terkait dengan keimanan dan ibadah seseorang kalau menurut paham saklek tanpa mencari informasi pandangan-pandangan dari berbagai Ulama, akhirnya bisa memicu perdebatan berkepanjangan lalu muncullah kerisuhan di media online.

Kementerian Agama sendiri sering sekali disikut oleh kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi.  Kebijakan terbaru yang terkait dari Kemenag seperti pengadaan kartu nikah dan pengaturan pengeras suara di masjid dan mushalla, keduanya viral diberitakan seakan Kemenang tidak Pro dengan Islam.

Padahal Kemenang punya alasan tersendiri atas kebijakannya, tidak mungkin sembarangan menggunakan Uang Negara untuk mencetak kartu nikah, misalnya seperti itu. Kartu Nikah sebenarnya membantu masyarakat Indonesia untuk pengganti buku nikah agar mudah dibawa kemanapun sebagai Identitas, pengeras suara sebenarnya agar masjid mushalla tertib menggunakan pengeras suara, toh kita tidak hidup hanya berdampingan dengan Islam.

Pada pembukaan pelatihan literasi, Dirjen Bimas Islam, Mohammad Amin menyampaikan bahwa sebagai generasi anak millenial di Indonesia jangan sampai terjebak hoax, ujaran kebencian, radikalisme, menebarkan paham agama yang menyimbang, meningkatkan daya literasi informasi begitu penting untuk menumbuhkan daya kritis dan nalar generasi muda.

Pak Dirjen Bimas Kemenag Selfie bersama 80 peserta anak millenial

Kenali dan Lawan Berita Hoax

Beberapa kali momen terkait Pemilu, Indonesia sempat ramai karena adanya pembatasan sosial media yang dilakukan Pemerintah melalui komando Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo). Pembatasan sosial media sebenarnya dilakukan untuk melawan berita hoax yang bisa muncul melalui share di aplikasi chat ataupun sosial media.

Rantai berita hoax yang mudah sekali diteruskan sebenarnya karena setiap manusia memiliki Ruang Gema, dimana setiap apa yang dibaca atau dilihat akan ada rasa sepemikiran. Kalau dari kita, masing-masing individu tidak mampu mencerna, maka yang terjadi adalah tidak terputusnya rantai share mengenai berita hoax tersebut.

Ditjen Aplikasi dan Informasi Kominfo, Anthonius Malau berbagi tips kepada genarasi Millenial untuk lebih mudah mengenali ciri-ciri berita hoax, seperti.
  1. Judulnya provokatif
  2. Isi berita tak sesuai judul
  3. Mencatut nama tokoh yang dimanfaatkan dengan nilai-nilai ideologi atau agama
  4. Hasil foto berupa rekayasa atau editan
  5. Berupa meme menyesatkan
Berita hoax maupun ujaran kebencian yang beredar di Internet ada 3 yaitu saracen, MCA dan hoax. Penyebaran isu hoax maupun ujaran kebencian ternyata mampu memicu konflik sosial, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Poso, Kabupaten Bima, Balai Asahan.

Lalu, bagaimana cara melawan hoax?. Melawan hoax sebenarnya sangat mudah, asal kita bisa menggunakan nalar dan logika pada saat menerima suatu share atau melihat media online di sosial media. Lima langkah cara melawan hoax ini bisa kamu terapkan dalam keseharian
  1. Tanyakan sumbernya
  2. Cek kredibilitas sumbernya
  3. Pahami isi tulisan
  4. Lakukan verifikasi
  5. Berhenti di kamu
Tagline saring sebelum sharing dan think before share memang sangat pas agar kita bisa terhindar dari segala jenis hoax. Kominfo sendiri memiliki akun sosial media di Instagram untuk menjelaskan berita hoax yang beredar, follow saja "misslambehoax", akun ini membantu kita terjernihkan akan berita-berita palsu yang menyesatkan.

Selain itu, kalau kita menemukan berita yang mengandung hoax, ujaran kebencian yang sangat mencurigakan langsung saja laporkan ke email, website maupun whatsapp dan akun sosial media dari Kominfo.

Saring Sebelum Sharing, ingat selalu dimanapun kalian berada

Memutus Penyebaran Hoax

Sudah seharusnya dan kewajiban kita ketika menerima sebuah kiriman baik meme maupun berita tidak langsung share otomatis, atau kita kenal share bait. Banyak sekali di sekeliling kita hanya membaca judul yang terkesan menarik dan satu ruang gema dengannya, otomatis langsung dia share, padahal belum tentu isinya sama atau belum tentu beritanya bisa dikonfirmasi kebenarannya.

Membaca suatu berita atau tulisan itu butuh kecerdasan untuk mencerna memahami isi tulisan yang disampaikan, begitu yang disampaikan oleh Dewan Pers Indonesia, Imam Wahyudi. Untuk mencari kebenaran dari suatu informasi tidak hanya cukup satu refrensi, maka dari itu lebih baik mencari informasi pendukung dari artikel atau sumber berita lain sehingga kita bisa mempertimbangkan kebenaran beritanya.

Dengan mencari informasi lebih, hoax sebenarnya bisa dicegah bahkan diputus rantainya. Selain itu, banyak sekali dari kita berdebat menggunakan literatur terbaru tapi melupakan literatur lama dengan nilai sejarah yang kuat, bisa dibilang digunakan hingga jaman sekarang.

Staf Ahli Kemenang yang juga ahli Filologi Indonesia, Oman Fathurahman menyampaikan kalau kita berdebat seharusnya sudah punya refrensi yang sudah dibaca dan dikaji terlebih dahulu. Refrensinya yang digunakan juga tidak bisa sembarangan, diusahakan refrensinya adalah refrensi paling akhir jadi konten yang diperbedatkan tidak bisa disanggah lagi, ibaratnya "tarik panah sampai dalam agar melesat jauh".

Manuskrip naskah kuno bisa digunakan untuk dipelajari sebagai wawasan sejarah nusantara yang kaya dan kental dengan literatur. Manuskrip ini bisa digunakan sebagai sanggahan tak terbantahkan pada perdebatan atau suatu konteks yang bisa mengacu pada berita hoax.

Berani dan cerdas lawan HOAX, BCC squad hadir sebagai peserta pelatihan

Menteri Agama Ajak Millenial "Jangan Baper Bersosial Media"

Tidak disangka, diluar dari rangkaian acara, karena anak millenial selalu aktif main sosial media, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyempatkan hadir dalam acara pelatihan literasi, beliau hadir karena peserta millenial ini banyak yang mention di twitter mengenai acara literasi dari Bimas  Islam Kemenag.

Beliau menyampaikan begitu senang dan antusias mengetahui ada acara khusus untuk mengumpulkan anak-anak muda, apalagi dalam pelatihan literasi ini menggandeng media islam, organisasi, blogger dan juga influencer. Saya sendiri mewakili komunitas Blogger Crony Community bersama 7 Blogger Crony Community (BCC) squad lainnya. 

Era teknologi digital saat ini tidak ada yang pernah meninggalkan main sosial media, tujuan bersosial media sejatinya memang untuk bersosialisasi karena manusia adalah makhluk sosial bukan soliter yang tidak bisa hidup sendiri. Tapi, Pak Lukman berpesan perlu digaris bawahi main sosial media tidak boleh baper, karena sosial media bisa berbahaya memicu permusuhan, perdebatan dan perpecahan. Gunakan sosial media untuk menebar kebaikan, itu juga pesan dari Menteri Agama.

Penyampaian Materi bijak sosial media, islam rahmatan lil alamin dan moderasi beragama oleh Pak Menag Lukman Hakim Saifuddin

Selain itu, Menteri Agama juga berpesan pada 80 peserta anak-anak muda yang hadir untuk menebarkan nilai-nilai islam Rahmatan Lil Alamin sesuai ajaran Rasulullah. Menag juga menyampaikan pesan generasi muda juga harus memahami keberagaman dalam merajut kebersamaan.

Keberagaman dalam sudut pandang perbedaan pandangan pendapat ulama juga disampaikan, bahwa sudah seharusnya kita memahami betul adanya perbedaan sudut pandangan, seperti yang kita tau terdapat 4 madzhab yang masing-masing punya pandangan berbeda. 

Begitu juga Menag berpesan pada generasi millenial untuk menerapkan moderasi beragama untuk menghadapi tantangan jaman globalisasi. Generasi millenial punya peran penting karena aktif, kratif dan inovatif serta terhubung luas dalam bersosialisasi, untuk itu penting menyebarkan prinsip wawasan moderasi beragama agar pesan moderat dan toleran serta menjaga umat dari paham yang bermasalah.      

Foto bersama Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin
Berkecimpung langsung di dunia sosial media, apalagi sebagai seorang blogger, secara tidak sadar apa yang saya lakukan lewat sosial media akan terekam jejak digital. Apalagi seharusnya saya lebih update dan membantu teman lain yang membutuhkan informasi mengenai berita happening, masih muda juga tentunya lebih aktif mencari dan meluangkan waktu membaca artikel-artikel.

Menurut saya juga, moderasi beragama memang sangat cocok untuk Indonesia karena kita ini terdiri dari berbagai macam suku, budaya dan agama, sudah sepatutnya saling toleran, menebar kebaikan dan kasih sayang. Kalau kalian masih Millenial, sudah aktif melawan hoax dan menyebarkan islam Rahmatan lil Alamin belum?.


Generasi millenial yang aktif, kreatif, innovatif dan jaringan luas harus cerdas mencerna hoax, mari semangat tingkatkan literasi 

Salam,

  • Share:

You Might Also Like

18 comment

  1. Aku baru tau kalau ada akun misslambehoax yang bisa jelasin hoax2 yang beredar. Kadang kita ga bener2 jeli ya sama berita yg beredar, hoax atau bukan. Bener kata pak lukman kalo main sosmed dilarang baper bisa memicu perselisihan dan perpecahan. Sosmed harusnya untuk media menebar kebaikan ya mba.

    ReplyDelete
  2. sekarang aku kalau dapet info dari "grup sebelah" cuma sekedar baca, jarang buat share lagi kecuali infonya emang udah valid. Malu bgt kalau sampe dibilang tukang nyebar hoax

    ReplyDelete
  3. Gara-gara zamannya sekarang segala sesuatu dibikin hoax jadinya kalo mau lihat berita jadi gak cukup sekali dan harus dari rubrik terpercaya biar gak asal sebar berita yang belum tentu valid..

    ReplyDelete
  4. Dari judul artikel memang pasti terbesit rasa penasaran, hanya harus cepat tanggap bahwa kalau bisa jangan diklik, dan stop di kitanya biar gak usah share berita hoax

    ReplyDelete
  5. Jaman sekarang wajib bgt nih nyaring dulu apa yang kita akan post, gak ikut-ikutan sharing, jejak digital itu cepet bgt nyebarnya bahkan ketika sudah kita hapuspun masih ada

    ReplyDelete
  6. sekarang kita kadang merasa sulit membedakan antara berita hoax dan berita yang sesungguhnya. Dan sebagai netizen kita harus cerdas dalam share berita. Maka acara-acara seperti ini sangat penting untuk mendukasi masyarakat

    ReplyDelete
  7. Wah senengnya Menag sampai hadir di acara ini.
    Setuju sekali moderasi beragama memang sangat cocok untuk Indonesia karena kita ini terdiri dari berbagai macam suku, budaya dan agama, sudah sepatutnya saling toleran, menebar kebaikan dan kasih sayang. Sehingga patut kita aktif melawan hoax dan menyebarkan islam Rahmatan lil Alamin.

    ReplyDelete
  8. Waktu pemilu kemaren memang luar biasa banget sih menurutku. Seniat itu para penyebar hoax untuk mengadu domba. Kadang dari judul aja udab keliatan itu hoax atau bukan. Dan sebagai pengguna smartphone harus bener bener pinter menerima info biar gak kemakan hoax. Mudah2an kedepannya orang orang akan semakin selektif untuk menerima info biar gak mudah kemakan hoax 👍

    ReplyDelete
  9. Hoax itu sungguh menganggu kehidupanku. Resah banget. Apalagi pas masa pemilu. Sampe aku susah bedain mana yang hoax atau tidak, jika nggak ngecek langsung :(

    ReplyDelete
  10. Wiwin | pratiwanggini.net17 July, 2019 01:22

    Sebagai blogger dan influencer, saya berusaha share hal-hal yang positif dan benar adanya. Saya tidak berani asal share berita yang baru saja saya terima. Biasanya saya cari dulu berita-berita lain yang senada.

    ReplyDelete
  11. Isu agama emang paling sering jadi sasaran hoax ya mbak, makanya memang penting sekali memilah berita yang hoax atau bukan.

    ReplyDelete
  12. Ah tapi kupercaya generasi millenial lebih cerdas daripada hoax itu sendiri

    ReplyDelete
  13. Iyes banget. Hoax di zaman sekarang udah nyaru aja ya sama berita yang benar. Kudu bener-bener cross check deh dengan berita. Biar gak termakan hoax yang akhirnya merugikan pihak lain.

    ReplyDelete
  14. Waah...mantap ini...dapat materi untuk melawan hoax.
    Dan memang ini masif sekali apalagi untuk isu-isu SARA.
    Semoga masyarakat Indonesia makin cerdas memilah dan memilih bacaan.

    ReplyDelete
  15. Bagus nih materinya. Iyaaa aku setuju kalau dapat BC berhentinya di kita aja. Aku tu paling kesel kalau di WAG ada yang share sesuatu trus pas dikatain: ini hoax, dia langsung bilang: cuma share doank hedeeehh... knp tangannya ikutan nyebar berarti dia jg nyebar hoax, plis deh

    ReplyDelete
  16. Wah bener banget nih #saringsebelumsharing. sering banget dapat broadcast wa yang macem-macem. pernah pengalaman di WA grup keluarga sampai ada yang marahan gara-gara berita hoax kayak gitu. kan sedih ya, gara-gara berita hoax bisa memutus tali silaturahmi

    ReplyDelete
  17. Tulisannya bagus banget mbak. Aku sangat berharap supaya generasi muda bisa membantu menghalau hoax. Apalagi hoax mengenai isu agama yang sangat sangat diterima dengan baik oleh para orang tua. Kasihan liatnya, mereka jadi militan gegara orang yg suka sebar hoax. Padahal nilai utamanya hanya ingin ibadah.

    ReplyDelete
  18. Kegiatan2 seperti ini harusnya diperbanyak agar semakin bnyk yg melek untuk mwnangkal hoax

    ReplyDelete

Terima Kasih sudah membaca sampai selesai-
Mari berkenalan dan saling berbagi, silahkan isi di kolom komentar